ikut-ikutanikut-ikutan
Spread the love

Awal tulisan ini berawal dari pesen Kiai Nawawi Ngrukem: “Ojo manut grubyuk seng ora reti rembuk.” lalu munculah ide tulisan ini.

Prolog

Sudah sangat lazim  bahwa manusia, tanpa terkecuali, adalah pecinta tiga hal; Harta, tahta(jabatan), dan lawan jenis.

Dari yang sudah baligh sampai yang tua, baik perempuan maupun laki-laki, entah sadar atau enggak sadar akan selalu terpesona dan menginginkan tiga hal tadi.

Agama dalam hal ini sudah jauh hari mengingatkan; Berhati-hatilah dengan keinginan. Cerita Raja Namrud, cerita Fir’aun, Qorun, dan lainnya telah terceritakan sebagai contoh buruk bagi manusia.

Gila akan kekuasaan membuat manusia lupa akan qodrat alaminya sebagai makhlukTuhan.

Al-Qur’an dengan pasti sudah mengetahui dan meramalkan bahwa kecintaan manusia pada tiga hal tadi sangat mendominasi kisah-kisah manusia dalam hal menjauhkan diri dari Tuhan.

Agama dengan pasti telah memberikan solusi bernama surga untuk mengurangi ketamakan manusia akan tiga hal tadi. Diceritakan lewat Nabi Muhammad dengan jelas bahwa surga itu isinya lebih indah, lebih nikmat, dan lebih lama dibanding apa yang ada di dunia. Saking nikmatnya, Akhirat itu tak bisa dibayangkan.

Doktrin itu sangat ampuh. Melihat dari sifat manusia yang nafsunya tak pernah habis, selalu ingin kepada yang paling nikmat, paling lama, dan paling indah, maka tawaran surga sangat tak tertandingi untuk memuaskan nafsu manusia.

Bagi yang kuat menahan diri untuk tidak terlalu mencintai tiga hal tadi, maka surga adalah hak untuknya.

Dari zaman Nabi Adam masih hidup sampai sekarang Adam Malik sudah meninggal, kuat menahan diri tetap dianggab sebagai sebuah prestasi.

Cinta dunia bukan hanya milik orang-orang yang kaya, punya istri cantik, dan punya kekuasaan tinggi( semisal lurah, camat atau bupati), tapi cinta dunia ini bisa menjalari semua jenis manusia yang menginginkan lebih dari apa yang telah ia terima. Tentu saja penafsiran dalam hal di atas masih debatable bagi yang tidak faham.

Hal Mistis

Melihat fenomena perkembangan Islam di masyarakat Jawa kita tidak bisa mengelak bahwa hal yang dilakukan adalah hal yang berhubungan dengan hal-hal berbau mistis.

Mulai dari kisah sunan Pandanaran. Saat bertemu sunan Kalijaga beliau mau merampoknya, Sunan Kalijaga lalu menuding buah kolang-kaling dan seketika buah itu menjadi emas. Ini cerita pendeknya.

Ada juga cerita ki Ageng Selo yang bisa menangkap petir. Masyarakat di Jawa, khususnya di perdesaan masih percaya pada mitos ini, bila terjadi petir berteriak sambil berkata, “Gandrik! Aku Putune Ki Ageng Selo” (“Gandrik, Aku cucu Ki Ageng Selo”).

Nah, kan. Percaya atau tidak, yang jelas masyarakat Jawa kenyataannya masuk Islam dengan pendekatan ilmu-ilmu magis. Tentu saja pendekatan itu tepat untuk dilakukan pada waktu itu.

Bila melihat dalam kondisi sekarang, maka hal-hal berbau magis masih mengakar dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Jawa. Meski pengajaran ilmu agama sudah berkembang pesat, baik di pesantren atau pendidikan agama lainnya, tetapi tetap tidak bisa menjangkau semua lapisan masyarakat.

Sehubungan dengan kecintaan manusia pada tiga hal tadi, harta, tahta, dan lawan jenis, dan dengan keyakinan akan hal-hal magis, maka yang terjadi adalah masih ‘laris manis tanjung kimpul’nya praktek perdukunan.

Setelah beberapa orang mempercayai bahwa Lia Eden sebagai nabi, Ahmad Muzadek dengan pengakuannya yang juga sebagai nabi, sekarang muncul Kanjeng Dimas Taat Pribadi.

Memang benar adanya bahwa dengan pendekatan dengan dongeng magis dari ulama dan Wali bisa meng-Islam-kan tanah Jawa. Dan muncullah beberapa ulama Islam berikutnya. Tapi, bagi masyarakat awam tentu saja masuk Islamnya hanya melalui taqlid saja.

Dan menurut Imam Ghozali, Orang yang masih taqlid belum dianggap sempurna agamanya. Jelas, perkataan  Imam Ghozali bukan hanya isapan jempol belaka. Terlihat dari masih banyaknya masyarakat Jawa dengan mudah mengikuti aliran-aliran sesat dan orang yang mengaku punya ilmu magis.

Dalam hal ini tentu saja masalah akidah adalah sumber masalahnya. Pengetahuan masyarakat tentang akidah bercampur dengan hal-hal magis yang mengakar dari jaman Wali Songo sampai sekarang.

Masyarakat masih bingung membedakan antara magis dan akidah. Sementara keinginan tentang tiga hal tadi(harta, tahta, dan lawan jenis) sudah tidak terbendung lagi.

Memang benar bahwa hal-hal magis dan ghoib sangat lekat dengan Islam. Dari peristiwa Isro’ mi’roj Nabi Muhammad sampai tongkat Nabi Musa yang bisa menjadi ular adalah hal-hal ghoib dan magis. Tapi toh itu tidak selamanya berlaku bagi setiap manusia.

Akidah

Masyarakat hanya tau bahwa hal-hal magis bisa menjadikan segala sesuatu yang tampak tidak mungkin menjadi mungkin. Penggandaan uang, ilmu pelet, ngingu thuyul, memberi persembahan pada sesuatu agar mendapat ini mendapat itu. Semua itu ada. Tapi bukan berarti boleh dilakukan.

Mereka lupa bahwa ‘man jadda wa jadda’ juga adalah kehendak Alloh. Bekerja secara wadag juga adalah sunatulloh. Orang perlu belajar untuk pintar. Manusia perlu bekerja untuk dapat uang. Orang perlu mendaras agar hafal al-Qur’an. Orang perlu belajar Nahwu-Sorof supaya bisa membaca kitab. Dlsb.

Tentu saja tidak serta merta kita menyalahkan masyarakat kerena telah bersikap ambigu terhadap masalah akidah. Ulama dahulu, Wali Songo, telah memulainya. Beliau-beliau telah menancapkan akidah sekalipun belum sempurna. Itu artinya, kita lah yang seharusnya meneruskan pengajaran bagi masyarakat. Oke lah kita sudah belajar, dan para ulama telah mendirikan madrasah. Tapi kenyataan masyarakat awam masih jatuh kepada hal-hal ambigu, masih salah membedakan akidah dengan hal-hal magis.

Hal ini jelas, selain rasionalitas mereka lemah, karena masyarakat belum bisa membedakan antara penipuan, gendam, dan karomah.

Minimal ada dua hal yang bisa kita lakukan. Yang pertama adalah, kita cari tau apakah orang yang mengaku punya karomah tadi ibadah dan akhlaknya baik atau tidak.

Yang kedua, kita mencoba minta bantuan ke dia untuk mencederai orang. Kalau dia mau, maka sebaiknya kita jauhi dia.

Dua hal di atas hanyalah solusi mudahnya saja.

Kiai Nawawi Abdul Aziz pernah berpetuah:

“Ojo manut grubyuk seng ora reti rembuk.”

Jelas, dawuh Kiai Nawawi di atas untuk menjauhkan kita dari mengikuti hal-hal yang belum kita fahami, termasuk mengkuti prkatek perdukunan tadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *