BUMDes Panggungharja dan NasibkuBUMDes Panggungharja dan Nasibku
Spread the love

Bantul- Kemarin, saat ada teman yang mau mengabdi di Papua, tiba-tiba mengatakan mau ke Panggungharja untuk tanya-tanya BUMDes. Kenapa Panggungharja? Karena ternyata Panggungharja merupakan BUMDes terbaik se-Indonesia. Dan inilah ceritaku tentang BUMDes Panggungharja dan Nasibku.

Merasa kenal dengan perintis BUMDes di sana, Gatot, aku menghubunginya. Sekedar membantu karena aku kenal dengan Gatot. Sekalian reuni dengan Gatot, niatku.

Saat aku telepon Gatot, ternyata tanggal 24 November nanti akan ada pertemuan seribu lurah di sana. Juga kehadiran tiga menteri, sehubungan dengan percontohan BUMDes. Rencananya juga hadir RI1.

(Mendadak aku mengingat-ingat lima nama ikan. Siapa tahu pak Jokowi bertanya, dan dapat sepeda. Kekeke…)

Pikiranku mengembara ke masa lalu setelah telepon Gatot.

Dulu, saat aku masih aktif dan semangat bikin proposal, aku iseng kirim proposal semacam kompetisi wirausaha ke Ciputra. Ndilalahnya masuk, dan ikut dipanggil di Jakarta. Tapi tentu saja bukan aku yang berangkat, karena batasan umur. Aku suruh Nur Kholis dan Nova untuk berangkat waktu itu.

Ciputra(Tjie Tjin Hoan), saat itu dikenal sebagai sosok penyebar entrepreneurship/kewirausahaan di Indonesia. Ciputra melalui Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) telah memberikan pelatihan entrepreneurship kepada setidaknya 1.600 dosen. Ciputra juga dinobatkan sebagai Entrepreneur of The Year 2007 versi Ernst & Young.

Pendek kata, bisa ikut dipanggil ke Ciputra itu keren.

Di sana, mereka ketemu banyak wirausaha pemula. Salah satunya Wahyudi Anggoro Hadi, orang Bantul juga. Dia wirausahawan teknologi bahan bakar diesel dari buah nyamplung.

Tentu saja yang juara adalah si Anggoro ini.

Dua tahun kemudian, Anggoro ini ikut pilihan lurah, dan menang. Lalu perlahan membuat BUMDes, karena memang pada dasarnya dia adalah wirausahawan. Ternyata, salah satu tim suksesnya adalah temanku, Gatot Feriyanto. Saat membuat BUMDes ini, Gatot ikut ngurusi, dari nol. Dulu belum digaji dan masih sering sambat saat kita bertemu.

Gatot adalah teman awalku di BPO saat aku memulai merintis kerajinan bathok. Sekira tahun 2009. Awal pertemuan kita sangat menjengkelkan. Dia dan teman satu lagi, Yasin namanya, menipuku untuk menjemput dan mengantarkan tamu BPO dari Jakarta untuk munyurvei bantuan hibah. Harusnya waktu itu aku duduk manis di rumah lalu didatangi, tapi aku malah dipanggil ke BPO untuk ikut mengantarkan tamu itu keliling Jogja. Aku, Gatot, dan Yasin pakai motor nginthil tamu itu yang pakai mobil. Tugas yang seharusnya tugasnya Gatot dan Yasin sebagai SP3. Bedebah! 😀😀

Setelah itu kita jadi akrab dan membentuk semacam geng di BPO. Bertahan sekira 3-4 tahun, sebelum kita menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing.

Kejadiannya

Jadilah kemarin, kita janjian di Kampung Mataraman. Katanya, Kampung Mataraman ini salah satu BUMDes-nya Panggungharja. Masih baru, baru tiga bulan jalan, dan masih dalam penggarapan.

Ketika sampai Kampung Mataraman, aku terhenyak melihat keadaan. Kampung Mataraman ini adalah sebuah kawasan/tempat yang nanti akan digunakan tempat berkumpulnya pekerja dan pencinta seni yang berbau kebudayaan; mocopat, kethoprak, wayang orang, dll, yang berhubungan dengan kesenian. Di sini berdiri pendopo-pendopo untuk tempat kegiatan-kegiatan itu. *Konsep ini meniru konsep Ingkung Kuali di Kalakijo, Guwosari.

Kalau siang tempat ini digunakan untuk makan, karena di sana juga ada warung makan. Warung makan prasmanan yang menunya tradisional. Semua pramusajinya memakai kebaya, untuk yang perempuan. Sedang yang laki-laki mengenakan surjan dengan kain lurik memakai blangkon dan caping. Wangun sekali.

Yang lebih asik adalah, meja-meja tertata di bawah pohon. Sejuk. Nyaman untuk ngobrol. Juga, kelihatannya, ada penyewaan baju kebaya dan surjan untuk pengunjung. Terlihat dari beberapa cewek yang selfi dengan pakaian Jawa. *Lihat poto candit di gambar.

Saat sampai di Kampung Mataraman, pikirku melanglang ke masa lampau menuju masa sekarang.

Aku kenal Gatot ini saat memulai usaha kerajinan bathokku, 2009. Tiga tahun kemudian aku bersaing dengan calon lurah Panggungharja untuk perlombaan wirausaha teknologi kreatif.

Sekarang, lima tahun setelah itu, mereka sudah berdua sudah dalam satu tim untuk dikunjungi presiden.

Kemarin, aku mengantarkan temanku menghadap rivalku 6 yang lalu untuk study-banding? Dia sudah distudy-bandingi, sekarang? Aku kemana saja selama ini? Ckckckckck…

Idealisme-ku ternyata harus kubayar mahal. Atau, jangan-jangan aku hanya seorang pemalas yang bersembunyi di balik logika. Beginilah BUMDes Panggungharja dan Nasibku. Hihihi…

*Sebenarnya aku bawa kamera. Tapi saking asiknya ngobrol, malah lupa menjepret.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *