Gadis itu MenangisGadis itu Menangis
Spread the love

Gadis itu Menangis di sepanjang jalan pulang, ia selalu mengingat-ingat beberapa chat yang dikirimkan kekasihnya.

“Pagi cantiikkk…❤❤❤…”

Ia membacanya, tapi tak ia membalasnya. Restu ibunya belum turun.

“Kok nggak dibales…💕💕💕💕…”

Ia juga tak membalasnya. Ia takut.

Ia takut hatinya membumbung terlalu tinggi dan jatuh bersimbah darah. Betapa ia sangat mencintainya, tapi ketakutan membuatnya tak berani membalas. Tapi berapa chat kekasihnya masih membayangi jiwanya. Membuatnya meragu untuk berharap lebih dari hanya sekedar memberi harapan.

Beberapa hari sebelum ia menolaknya. Lelaki itu adalah kekasihnya, karena ia mencintainya. Bukan pacar karena ia telah menolaknya karena belum datangnya restu ibunya sebelum dia lulus kuliah.

Hari-hari berlalu begitu saja. Tak ada perkembangan. Hanya hatinya yang terus membumbung.

Pagi, sebelum kuliah, berteriak ia dengan lantang, “Aku bisa kuat sendiriaaann…”

Dua jam kemudian dia sangat terpukul dengan keberaniannya menolak pinangan kekasihnya. Kuliah dan nasehat orang tuanya untuk tidak pacaran sebelum lulus yang membuatnya berani menolak pinangan orang yang dicintainya. Walau hatinya berontak.

Tiga hari tidak ada kabar dari orang yang dicintainya, chat WA dan komentar di media sosialnya, hatinya menggigil. Panas badannya naik. Pikirannya kacau. Hatinya terpuruk kecil, dan gelisah melanda.

Gadis itu Membujuk Ibunya

Dua hari kemudian, ia menemani masak ibunya. Ibunya tersenyum interogatif atas sikap anaknya yang tiba-tiba ikut memasak di dapur. Sehabis sholat Isak, ia tonton sinetron kesukaan ibunya: Ganteng-ganteng Srigala. Sinetron yang sangat tidak ia sukai karena nasibnya sama dengan pemeran tokohnya: tergila-gila dengan cowok ganteng namun playboy.

Kepalanya di taruh di bantal di dekat ibunya. Ibunya kembali memandangnya interogatif. Saat sinetron hampir selesai, dan ibunya sedang menyelonjorkan kaki, kepalanya d taruh di pangkuan ibunya.

Dibelai rambut anaknya yang sedang kelihatan tidak seperti biasanya.

“Ada apa, Nduk?” Tanya ibunya sambil membelai rambutnya yang dikuncir kuda.

“Aku takut sekali berkhianat kepada ibuk…” jawabnya sambil memandangi wajah ibunya. “Aku takut sekali ibu marah,” Jawab gadis itu pelan.

“Jangan takut, doa ibu akan selalu bersamamu. Kamu baru saja menjauhi cowok?”

Dia hanya diam. Kedua matanya hanya tertuju pada kedua tangan yang sedang membersihkan kotoran di kuku. Lalu menggigit kukunya sambil menatap langit-langit ruang tivi.

“Ibuk akan selalu mendoakanmu mendapatkan kekasih yang terbaik untukmu.”

Gadis itu diam, kemudian masuk ke kamarnya dengan malas, matanya hampir terpejam.

Ibunya segera mematikan tivi. Masukke kamar anak gadisnya. Dipandanginya si gadis dengan perasaan haru.

Setelah ibunya pergi, Gadis itu Menangis tapi lirih sekali.

Pagi hari, ia mencium tangan ibunya, berpamitan, sebelum berangkat ke kampus untuk ketemu dosen, meminta jatah revisi proposal skripsinya. Ibunya semakin kalap melihat perubahan sikap anak bungsunya: dari tidak pernah cium tangan, kini mencium tangan ibunya saat berpamitan. Kemudian ikut memasak.

Siang hari, setelah dari kampus, ia kembali membantu ibunya memasak di dapur. Saat tangannya teriris pisau saat sedang merajang sayur, ia segera ke warung untuk membeli perban.

Ibunya semakin kalut. Tahu ada yang tidak beres dengan anak gadisnya.

Saat setelah makan, ibunya duduk mendekatinya di meja belajar. “Kamu kenapa, Nduk?”

“Aku tidak apa-apa, Buk.”

Mendengar jawaban anaknya, sang ibu menjadi mati gaya. Merasa telah kehilangan hati anaknya.

Saat sebelum tidur, pintu kamarnya terbuka. “Boleh ibuk masuk?”

Gadis itu hanya diam.

Ibunya duduk di tepi ranjang. Membelai rambut anak bungsunya yang kali ini dikepang dua. “Kamu ada apa?” Sapa lembut ibunya.

“Proposal skripsiku banyak banget revisinya…” jawabnya singkat. Lalu ia tengkurap. Mukanya ia taruh di bantal. Matanya berair dan kemerahan.

Ibunya diam menungguinya.  Menunggu kata lain yang kemungkinan menyusul.

“Aku sangat menyukainya, Buk.” Lanjutnya pelan dan terbata, tanpa ditanya. Kaca-kaca di matanya pecah, lalu mengalir. Kedua telapak tangannya menutupi mukanya.

Ibunya menarik badannya. Meletakkan kepala putri bungusnya di pangkuan. Membelai rambutnya yang hitam. Memeluknya erat sekali, pertanda restunya untuk si anak bungsu telah turun.

“Maafkan ibumu ini yang tidak tahu kalau kamu sudah dewasa, Nduk.” Jawab ibunya, kemudian mencium kepala bagian belakang anaka gadisnya yang tidur tengkurap.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, ia kadung menolaknya beberapa hari lalu. Dan kabar kekasihnya hilang tertelan kabut malam. Kini suasananya dingin dan beku. Gadis itu Menangis.

*Bersambung entah kapan. Cerita nyata, tapi gak berakhir menikah.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *