jalur kimcil depan Pasebanjalur kimcil depan Paseban
Spread the love

Bantul- Beberapa waktu lalu, aku ke konter di Peremapatan Pa rasanya untuk membenahi hape. Dari sinilah aku tahu ada istilah Jalur Kimcil Depan Paseban.

Saat sedang asik ngobrol, tetiba ada bau wangi menyengat hidung. Aku mencuri pandang sepasang kaki dengan kutek merah di jari kakinya berhenti di samping kursiku. Pandanganku ke atas dengan pelan dari ujung kaki. Celana gemes dengan potongan 26 centi di atas lutut. Aku tak berani lagi memandang ke atas. Takut bertemu mata.

“Vocer Tri, Mas!” Suaranya terdengar nyaring gemericik. Lalu uang receh lima ratusan tiga buah ia letakkan di atas etalase.

Setelah vocer diterima, ia lalu menuju ke temannya yang menunggu di atas motor. Mataku mengikutinya: Gadis kecil yang cantik.

Hening sejenak.

“Ga usah heran. Masih banyak di situ, kalau mau lihat.” Tangan penjaga konter menunjuk arah depan Paseban.

Aku masih belum tahu apa yang dimaksud penjaga konter.

“Dari Paseban Polres itu lho. Jalur Kimcil!”

“Jalur kimcil?” Tanyaku.

“Kalau malem pada nongkrong di situ.” Lanjut si penjaga konter.

Suasana Paseban

Setelah selesai urusan di konter, aku menuju Paseban. Pesan semangkok siomai. Lalu duduk di tikar menghadap selatan, memperhatikan motor-motor muda: FU, Ninja, KLX, dan entah apalagi, aku tak tahu namanya, berjajar di sepanjang jalan yang menghubungkan Paseban dan jalan depan Polres.

Saat ada dua orang cewek berboncengan dengan pakaian seksi lewat, para lelaki muda yang duduk di atas motor melotot menelanjanginya. Lalu siulan dan sapaan genit meluncur dari para pemuda itu. Lalu sebuah motor FU mengejar dua cewek itu.

Beberapa saat kemudian, dua cewek melintas, kali ini tidak ada pemuda yang menggoda, hanya melihat sekilas lalu sudah.

Siomai yang kupesan sudah jadi. Sambil melahabnya, pikiranku menerawang.

Aku merasa kasihan melihat dua cewek yang barusan melintas, sudah dandan habis-habisan tapi gak ada yang nglirik. Padahal aurat dan harga diri mereka sudah diobral demi mendapatkan siulan, dan mungkin dilanjutkan dengan saling ‘kasih-sayang’. Orang-orang sudah menganggab mereka murahan. Padahal mereka benar-benar butuh kasih yang tulus. Bahkan kaum mereka (hawa), sudah menuduhnya merendahkan harkat dan martabat perempuan.

Bergumam tentang Jalur Kimcil Depan Paseban

Aku hanya tahu setiap orang butuh tempat berteduh, tempat yang nyaman, mereka pun sama.

Walau aku kadang juga eneg dengan kepedean dengan bentuk seksinya. Mereka belum sadar bahwa mode pakaian sekarang sudah berubah. Yang lagi mode sekarang adalah yang santun dan solihah.

“Tapi kalian nyante aja, tetep boleh pakai pakaian seksi kok. Kalau Tuhan marah jangan takut, paling-paling cuma dimasukkan ke neraka. Tapi setidaknya syukurilah keseksian kalian, karena bersyukur tetep dianggab ibadah.” Gumamku dalam hati.

“Jangan takut dengan cewek-cewek berjilbab yang mencaci kalian dan bersikap sok alim. Jangan ingatkan mereka tentang cara menghargai dan menolong sesama hawa. Biar mereka bisa jadi temenmu di neraka nantinya.” Aku masih menggumam.

“Kalian bukan kriteriaku, tapi aku menghargai bahwa kalian makhluk Tuhan. Jangan paksa aku melihat lekuk tubuh kalian, karena aku kan senang hati mencuri pandang. Jika kalian perlihatkan sedikit bagian dada kalian, maka aku akan pejamkan mata dan bilang “astaghfirulloh”. Sekalipun dadaku akan berdecak sangat kencang.

“Kalian doakan saja orang-orang agar bisa menolong kalian. Dan semoga cewek-cewek sok alim itu diampuni dosanya. Dan buktikan pada laki-laki hidung belang bahwa dunia milik bersama.” Aku masih bergumam dalam hati.

Bilang pada mereka, “Tubuhku tidak untuk di-exploitasi. Tanganku emang untuk membelai, tapi aku juga punya hati untuk menyayangi.” Aku masih bergumam sendiri.

Tiba-tiba, “Boleh duduk sini, Mas!”

Aku terkaget saat suara itu datang secara tiba-tiba. Kulihat seorang gadis bersiap duduk satu tikar denganku. “Oh, silakan ….” jawabku sopan.

Wangi parfumnya menguar tajam. Celana jeans hitam membalut kaki panjangnya. Kaos singlet dengan tatto mawar di lengan kanannya.

“Siomai satu, Pak!” Ucapnya pada penjual siomai sambil mengacungkan tangannya. Terlihat beberapa cincin menghiasi jemarinya. Sebuah jam tangan dan beberapa gelang perak menyatu di pergelangan tangannya.

“Sendirian, Mas?” Sapanya padaku setelah memesan siomai.

Aku menggeragab.

Tamat. Itulah cerita Jalur Kimcil Depan Paseban.

Penutup

“Jika engkau melihat seseorang itu jauh dari Tuhan, janganlah engkau mengejeknya karena engkau akan lebih jauh darinya. Karena Alloh lebih dekat dengan pendosa daripada orang-orang sombong.” Habib Umar al-Hafidz.

Bukan hanya harta, tahta, dan wanita yang bisa disombongkan, ibadah pun bisa. Dan ini lebih mengerikan akibatnya, bukan hanya lebih jauh dari Tuhan, tapi tidak mengenal Tuhan.

*Cerita ini terjadi sudah lama, kutulis juga sudah lima tahunan lalu. Edit EYD saja, noraknya enggak. Haa…

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *